|
Artikel | Back to menu
artikel
Matawai mahu Pada Njara Hamu
ngkapan
ini nama julukan sebuah taman (Paraingu Hawala) di mana
manusia pertama (Kawunga Dedi Tau) yaitu Umbu Ndilu Pa-unggulu
dan Rambu Kahi Pa-karahangu. Julukan keindahan taman ini:
Luku Leu Langga Tana Oi ha, yang artinya suatu taman
dengan kelimpahan untuk kebutuhan manusia. Di tengah taman (Luku
Leu Langga) mengalir 4 batang mata air (2 batang airnya
berwarna keemasan (mahu Rara)) dan dua batang airnya bening
(perak) (mahu Bara) dan Tambura Bara, disimpulkan dengan
julukan: Matawai mahu. Sedangkan julukan: Tana Oi ha,
taman yang ditumbuhi bermacam pohon buah-buahan dan
rerumputan untuk kebutuhan manusia atau hewan (njara hmu).
Yang
paling mendalam arti ungkapan: Matawai mahu Pada Njara Hamu
adalah dalam suatu kehidupan sejahtera, adil, makmur baik
manusia maupun kejadian lainnya (Luri Hanggale Hawola
Tera la katiku natoma la kamiti Hinggi Pa-kalambungu
natoma la karoka cukup sandang, pangan dan papan). Dalam
ungkapan Njara Hamu menurut tradisi bahwa dalam pemberian
nama-nama hewan, burung, atau serangga, maka yang pertama
muncul di hadapan Umbu Ndilu Paunggulu adalah Kuda (Njara)
dan yang kedua adalah Anjing (Ahu Miti Lma).
Untuk
mengenang atau memperingati taman ini (Luku
Leu Langga Tana Oi ha) dalam musyawarah adat I di Haharu
Malai (Tanjung Sasar) didirikan Katoda Pahomba Tana
suatu onggokan mesbah dengan julukan: Matawai mahu Pada
Njara Hamu, suatu ikrar/tekad untuk membangun Sumba (Tana
Humba) untuk mencapai suatu masyarakat yang adil, makmur,
sejahtera dan damai, berjiwa gotong royong, keadilan sosial
yang merata (ungkapan: Duanya Na Ihi Mihi Mbru Duanya Na
Wai Wolu Langga, Tidak ada jurang yang menyolok antara kaya
dan miskin).
Sumber:
D.H. Wohangara dan Pdt. Mb. Ratoebanjoe. SEJARAH PULAU
SUMBA, ADAT-KEBUDAYAAN DAN PENDUDUKNYA PATU LATA TURA
PARAINGU (CATUR SILA MARGA SUMBA - CATUR SILA PENOPANG
NEGERI DI SUMBA). Unpublish. |